Sinergi Lintas Negara Dorong Umrah–Haji Plus Pariwisata

buchori
buchori 3 mnt baca
JAKARTA — Indonesia kian memantapkan perannya sebagai salah satu poros utama pengembangan program umrah dan haji plus berbasis pariwisata melalui kolaborasi lintas negara. Inisiatif strategis ini digulirkan dalam rangkaian International Umrah and Tourism Exhibition 2026 (HUITM), yang pada tahun ini memperluas jangkauan kerja sama melampaui pola sebelumnya. Jika pada edisi-edisi terdahulu kolaborasi umumnya melibatkan empat negara, tahun ini HUITM mempertemukan jejaring lintas kawasan yang mencakup Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Afrika Utara. Negara-negara yang terlibat antara lain Malaysia, Arab Saudi, Indonesia, Uzbekistan, Maroko, Iran, Turki, serta Kazakhstan. Sinergi ini dirancang untuk mengintegrasikan perjalanan ibadah umrah–haji dengan pariwisata, sehingga keduanya saling menguatkan dan berkelanjutan. “Alhamdulillah, tahun ini skemanya diperluas. Target kami adalah bagaimana antarnegara bisa saling menghidupkan sektor pariwisata sekaligus umrah,” ujar Ahmad Bugis, Direktur Yalla Organizer selaku perwakilan ASEAN HUITM. Rangkaian agenda dimulai di Malaysia pada 18 Juni 2026 dan berlanjut ke Indonesia pada 23 Juni 2026. Setelah itu, kegiatan berlanjut ke Uzbekistan pada 27–28 Juni 2026, Maroko pada 2 Juli 2026, Turki pada 11–12 Juli 2026, dan ditutup di Kazakhstan pada 13 September 2026. Seluruh rangkaian mendapatkan dukungan pemerintah serta pemangku kepentingan di masing-masing negara. Minat global terhadap program ini tercermin dari partisipasi lebih dari 90 perusahaan dari kawasan Timur Tengah dan Turki. Indonesia sendiri dibidik sebagai tuan rumah tetap kegiatan serupa setiap tahun, khususnya pada musim low season, guna menggerakkan industri perjalanan, perhotelan, serta ekosistem umrah dan haji nasional. “Harapannya, ini menjadi agenda terbesar umrah–haji plus pariwisata di Indonesia dan bisa berjalan rutin setiap tahun,” tambah Ahmad. Dukungan internasional juga tampak dari kehadiran para pemangku kepentingan utama. Hadir Menteri Agama RI melalui Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), perwakilan Kedutaan Besar Uzbekistan yang dipimpin langsung Duta Besar, Ketua asosiasi umrah dan haji terbesar Uzbekistan yang didukung pemerintah setempat, hingga Presiden HUITM dari Turki bersama delapan asosiasi umrah dan haji Turki yang untuk pertama kalinya berkumpul dalam satu forum. Dari dalam negeri, sejumlah asosiasi besar turut ambil bagian, di antaranya AMPUH, AMPHURI, ASPHURINDO, KESTHURI, ASPHIRASI, AMUHI, BERSATU, UZSAA, ASITA, serta perwakilan Kementerian Agama. Kehadiran lengkap para pemangku kepentingan ini menjadi sinyal kuat kesiapan Indonesia memainkan peran strategis dalam peta global umrah, haji, dan pariwisata religi. “Alhamdulillah, semua hadir. Ini momentum penting untuk membangun kerja sama yang lebih besar dan berkelanjutan,” tutup Ahmad. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, digelar pula Uzbekistan–Indonesia Umrah + Uzbekistan Networking Luncheon pada 26 Januari 2026 di Mercure Jakarta Cikini. Forum ini mempertemukan pelaku industri dari kedua negara untuk memperdalam jejaring bisnis dan peluang kolaborasi. HUITM sendiri diselenggarakan oleh Hajj and Umrah International Travel Market dan berperan penting dalam memperkuat ekosistem pariwisata Islam global dengan menghimpun pelaku utama industri umrah, haji, dan pariwisata Islam, termasuk dari Arab Saudi. Berbekal pengalaman penyelenggaraan di Turki, Uzbekistan, dan Belgia, HUITM memperluas jangkauan globalnya pada 2026 melalui roadshow di tujuh negara. Atas prakarsa Presiden Republik Uzbekistan, pemerintah setempat juga mengeluarkan kebijakan khusus bagi Malaysia dan Indonesia pada 2026, termasuk pembukaan penerbangan langsung ke Samarkand, Bukhara, dan Tashkent, serta penyediaan layanan dengan harga terjangkau melalui dukungan pemerintah. Selain itu, Kompleks Imam al-Bukhari akan dibuka kembali dengan format yang diperbarui, bersamaan dengan peresmian Pusat Peradaban Islam. Inisiatif ini menegaskan posisi HUITM sebagai platform internasional utama bagi industri pariwisata Islam dan perjalanan ibadah, sekaligus membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil peran sentral dalam pengembangan umrah–haji plus pariwisata di tingkat global.