Menurutnya, peran dai sangat krusial dalam menjelaskan nilai-nilai ekonomi Islam secara sederhana, inspiratif, dan aplikatif di tengah umat.
Bank Indonesia, lanjut Dadang, menilai para dai dapat menjadi agen perubahan dalam gerakan literasi dan inklusi ekonomi syariah di seluruh wilayah Indonesia. Melalui khutbah, ceramah, dan kegiatan dakwah, dai mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola keuangan secara halal, transparan, dan berkeadilan.
“Kami berharap para dai dapat menjadi penyambung lidah ekonomi syariah di daerah. Berislam itu modern, produktif, transparan, dan akuntabel. Ketika masyarakat tercerahkan, ekonomi syariah bisa menjadi pilihan utama,” tuturnya.
Dadang juga mencontohkan bagaimana pengelolaan dana haji di Indonesia telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Dana tersebut tidak hanya digunakan untuk penyelenggaraan ibadah haji, tetapi juga berdampak sosial melalui pembiayaan rumah sakit dan kegiatan kemanusiaan.
“Bayangkan betapa bangganya ketika jamaah haji menyadari bahwa ibadah mereka juga menyembuhkan ribuan saudara kita yang membutuhkan. Inilah bentuk nyata ekonomi Islam yang menyejahterakan,” tambahnya.
Sejak beberapa tahun terakhir, Bank Indonesia bersama MUI telah menginisiasi berbagai program penguatan ekonomi syariah. Imam menyebutkan sedikitnya enam program unggulan yang telah dijalankan, yaitu:
1. Gerbang Santri – (Pengembangan pesantren dan rantai nilai halal)
2. Jawara Ekspor – (Jaringan wirausaha syariah untuk mendorong ekspor produk halal)
3. Gemah Halal – (Gerakan Berjamaah Akselerasi Halal)
4. Sapa Syariah (Sinergi Perdagangan dan Pembiayaan Syariah)
5. Kanal ZISWAF (Kolaborasi Nasional Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf)
6. Lentera Emas — (Literasi dan Inklusi Ekonomi Syariah menuju Indonesia Emas)
Dari keenam program tersebut, Imam menekankan pentingnya peran para dai dalam program Lentera Emas, yakni gerakan literasi dan inklusi ekonomi syariah.
“Kami mengharapkan para dai dan daiyah berperan aktif di Lentera Emas. Dengan sinergi ini, kita bisa membangun masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga mandiri secara ekonomi,” ujarnya.
Dadang juga menegaskan komitmen Bank Indonesia untuk terus memperkuat sistem ekonomi dan keuangan syariah secara terstruktur bersama MUI dan lembaga keagamaan lainnya.
“Kami di Bank Indonesia berupaya membangun sistem ekonomi syariah yang kuat, kredibel, dan inklusif. Bersama MUI dan para dai, kita optimistis dapat mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan sejahtera,” kata dia.
Source: MUI.or.id