Oleh: Rahmat Hidayat (Sekjen DMI)
Pada 22 Juni 2026, Dewan Masjid Indonesia (DMI) tepat memasuki usia 54 tahun. Perjalanan selama lebih dari setengah abad ini bukanlah waktu yang singkat. DMI telah menjelma menjadi organisasi kemasjidan terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia, dengan kepengurusan yang tersebar hingga ke tingkat kabupaten dan kecamatan di seluruh pelosok negeri.
Milad ke-54 ini menjadi momen yang tepat untuk merefleksikan perjalanan panjang organisasi, menilik kiprahnya yang telah memberi dampak luas bagi umat, sekaligus memasang harapan besar untuk masa depan yang lebih gemilang.
Perjalanan Panjang DMI
Ide pendirian DMI berawal dari keprihatinan para tokoh Islam terhadap kondisi masjid pada masa itu. Pertemuan yang dihadiri oleh H. Rus'an dari Dirjen Bimas Islam dan H. Edi Djajang Djajaatmadja wakil dari Jakarta Pusat, melahirkan gagasan untuk membentuk panitia pendiri Dewan Kemakmuran Masjid Seluruh Indonesia (DKMSI).
Pada 16 Juni 1970, dibentuklah formatur yang diketuai oleh KH. MS. Rahardjo Dikromo, beranggotakan sejumlah tokoh penting seperti H. Sudirman, KH. Hasan Basri, KH. Muchtar Sanusi, KH. Hasyim Adnan, BA, dan KH. Ichsan.
Perjuangan mereka membuahkan hasil pada 22 Juni 1972, ketika rapat tim formatur secara resmi mendeklarasikan berdirinya Dewan Masjid Indonesia (DMI). Visi mulia organisasi ini sejak awal adalah mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pengembangan masyarakat, dan persatuan umat, dengan maksud meningkatkan keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, dan kecerdasan umat.
Kini, DMI terus berkembang di bawah kepemimpinan tokoh nasional Bapak HM. Jusuf Kalla, yang kembali dipercaya untuk periode 2024-2029.
Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid
Visi besar DMI, "Memakmurkan dan dimakmurkan masjid," bukanlah sekadar slogan. Ini adalah filosofi yang dijabarkan dalam berbagai program konkret. Memakmurkan masjid berarti mengoptimalkan fungsinya, sementara dimakmurkan masjid berarti masjid memberi kemakmuran bagi umat dan lingkungannya.
Di era kepengurusan saat ini, DMI mengusung 11 program unggulan untuk periode 2024-2029, yang mencakup berbagai aspek. Program-program tersebut antara lain:Penataan organisasi dengan digitalisasi. Penataan akustik masjid, yang pada periode sebelumnya telah berhasil memperbaiki sistem suara di lebih dari 80.000 masjid di seluruh Indonesia.
Pengembangan ekonomi dan sosial, yang diwujudkan melalui program-program pemberdayaan UMKM berbasis masjid. Pelatihan fungsi kemasjidan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan masjid. Lingkungan masjid hijau, masjid ramah jamaah, serta masjid bersih dan sehat. Sertifikasi tanah wakaf untuk menjamin legalitas aset masjid. Pendidikan dan dakwah, arsitektur masjid, dan wisata religi.
Salah satu terobosan penting adalah penguatan pemberdayaan ekonomi. DMI melantik pengurus khusus di bidang pemberdayaan ekonomi untuk mengoptimalkan potensi ekonomi masjid yang sangat besar.
Mengingat 72 persen umat Islam di Indonesia rutin ke masjid setiap minggu, angka tertinggi di Asia Tenggara, masjid memiliki potensi luar biasa sebagai pusat kegiatan ekonomi dan pemberdayaan UMKM.
Pusat Peradaban Umat
Ketua Umum DMI, Bapak Jusuf Kalla, secara konsisten menyuarakan bahwa masjid harus menjadi pusat peradaban, bukan sekadar tempat ibadah. Ini berarti masjid berfungsi sebagai pusat persatuan, dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi. Peran ini mengikuti jejak Rasulullah SAW yang dakwahnya selalu berkaitan dengan kemajuan muamalah.
Dalam berbagai kesempatan, Pak JK menekankan bahwa ukuran kemakmuran masjid bukanlah dari megahnya bangunan, melainkan dari tingkat kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Beliau mengingatkan, "Masjid bisa saja besar, tapi kalau masyarakat di sekelilingnya belum makmur, berarti masjid itu belum benar-benar dimakmurkan".
DMI juga mendorong peran masjid dalam isu-isu aktual, seperti pelestarian lingkungan. Dalam banyak kesempatan Pak JK sering mencontohkan pemanfaatan air bekas wudhu untuk menyiram tanaman dan pengembangan kebun masjid yang dapat menghasilkan nilai ekonomi.
Langkah ini tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. "Masjid jangan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekitar," tegasnya.
Harapan ke Depan
Di usia yang ke-54, harapan terbesar adalah DMI semakin berjaya dalam menggerakkan masjid sebagai pusat peradaban dan kemaslahatan umat. Dengan dukungan pengurus di seluruh Indonesia, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen untuk terus berinovasi, DMI diyakini mampu memperkuat peran ekonomi masjid. Program-program pemberdayaan ekonomi seperti "Rumah Wirausaha Masjid" diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak masjid, mencetak wirausaha baru, dan meningkatkan kesejahteraan jamaah.
Berikutnya, mewujudkan masjid yang ramah lingkungan; Gerakan masjid hijau, pemanfaatan air wudhu, dan penanaman pohon harus menjadi gerakan masif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
DMI juga berupaya meningkatkan kualitas dakwah dan pendidikan: Dengan penataan akustik dan pelatihan fungsi kemasjidan, masjid diharapkan menjadi pusat pendidikan yang mencerahkan dan menyampaikan pandangan Islam yang wasathiyah.
Yang tak kalah penting adalah memperkokoh persatuan umat dan bangsa. DMI juga berperan dalam menjaga kerukunan umat beragama, seperti yang dicontohkan di Papua, di mana masjid dan gereja dapat berdampingan dan bekerja sama dalam program-program sosial.
Ibadah harus berjalan seiring dengan kerja keras, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat. Seperti pesan Pak JK, "Negara tidak akan maju jika hanya memperbanyak rumah ibadah tanpa diiringi ilmu, pengabdian, dan kerja keras".
Semoga DMI senantiasa istikamah dalam menjalankan amanah, dan masjid-masjid di seluruh tanah air benar-benar menjadi rumah bagi kemakmuran lahir dan batin umat. Selamat Milad ke-54 Dewan Masjid Indonesia, teruslah berkibar untuk kejayaan Islam dan kemakmuran Indonesia.