Mensyukuri Nikmat, Wujudkan Kebahagiaan

Gatot Widakdo
Gatot Widakdo 5 mnt baca

Oleh: Rahmat Hidayat, Sekjen Dewan Masjid Indonesia (DMI)

Setiap insan di muka bumi ini pasti mendambakan kebahagiaan. Kebahagiaan menjadi tujuan akhir dari setiap perjuangan dan doa yang dipanjatkan. Namun, seringkali manusia keliru dalam mendefinisikan kebahagiaan.

Banyak yang mengira kebahagiaan terletak pada melimpahnya harta, tingginya jabatan, atau sempurnanya kesehatan. Padahal, kebahagiaan sejati tidak selalu berbanding lurus dengan kenikmatan duniawi.

Sebaliknya, kebahagiaan hakiki justru lahir dari kedalaman hati yang senantiasa mensyukuri setiap nikmat, sekecil apa pun, yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mensyukuri nikmat adalah pintu gerbang menuju kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Tanpa rasa syukur, hati akan terus merasa lapar dan tidak pernah puas. Seseorang dengan harta berlimpah namun lalai bersyukur akan selalu gelisah, merasa kurang, dan terperangkap dalam keserakahan yang tak berujung.

Sebaliknya, orang yang hidup sederhana namun hatinya dipenuhi rasa syukur akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan yang tidak ternilai. Kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki banyak hal, melainkan tentang bagaimana kita memaknai dan mensyukuri apa yang telah kita miliki.

Dalil Al-Qur'an 

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jaminan yang jelas bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini adalah fondasi utama yang mengajarkan bahwa syukur adalah kunci untuk membuka pintu tambahan nikmat dari Allah. Penambahan nikmat ini tidak terbatas pada hal-hal yang bersifat materi, tetapi juga mencakup ketenangan jiwa, kemuliaan, dan keberkahan dalam setiap aspek kehidupan. Ini adalah janji Allah yang pasti, sebuah motivasi besar bagi setiap Muslim untuk senantiasa memelihara rasa syukur dalam kondisi apa pun.

Selain itu, dalam Al-Qur'an, kita juga diajarkan doa syukur yang dipanjatkan oleh Nabi Sulaiman 'alaihissalam. Ketika beliau dikaruniai kemampuan memahami bahasa semut, beliau tidak lupa diri, melainkan segera memanjatkan doa:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An-Naml: 19)

Doa ini mengandung pelajaran berharga bahwa rasa syukur atas nikmat harus diwujudkan dalam amal saleh, dan tujuan akhir dari syukur adalah kebahagiaan abadi di akhirat, bukan sekadar kesenangan duniawi yang fana. Nabi Sulaiman, meskipun diberikan kekuasaan dan kekayaan yang luar biasa, tetap memohon agar diberi ilham untuk bersyukur dan menjadi hamba yang saleh.

Teladan Para Sahabat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai teladan terbaik juga mengajarkan pentingnya syukur dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah betul-betul ridha terhadap seorang hamba yang jika ia makan selalu memuji Allah dan jika ia minum juga selalu memuji-Nya." (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa rasa syukur adalah amalan sederhana yang sangat dicintai Allah. Momen makan dan minum, yang sering kita anggap biasa, jika disertai dengan pujian kepada Allah, bisa menjadi ibadah yang mendatangkan keridhaan-Nya. Hal ini menegaskan bahwa syukur tidak harus selalu dalam bentuk yang besar, tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita.

Para sahabat dan ulama juga memberikan nasihat yang mendalam tentang hakikat syukur. Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

"Sesungguhnya nikmat itu berkaitan dengan rasa syukur, dan rasa syukur berhubungan dengan bertambahnya nikmat. Keduanya akan saling bergandengan. Tambahan rezeki dari Allah tidak akan pernah terputus sampai terputusnya rasa syukur seorang hamba."

Perkataan ini menegaskan bahwa syukur adalah "pengikat" bagi nikmat itu sendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh Umar bin Abdul Aziz, "Ikatlah nikmat Allah dengan bersyukur kepada-Nya". Ini adalah gambaran yang sangat jelas: nikmat yang disyukuri akan tetap ada dan bertambah, sementara nikmat yang tidak disyukuri akan lepas dan hilang.

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu juga memberikan teladan tentang sikap terbaik dalam menghadapi kehidupan. Beliau bersabda, "Sungguh, aku sehat dan bersyukur lebih aku sukai, daripada aku sakit dan bersabar".

Pernyataan ini bukan berarti meremehkan kesabaran, melainkan menunjukkan tingginya derajat orang yang mampu bersyukur dalam keadaan sehat dan lapang. Beliau mengajarkan untuk memilih kondisi yang memungkinkan kita untuk lebih banyak bersyukur dan beramal, dan tentunya, jika Allah mentakdirkan kita dalam ujian, maka kesabaran tetap menjadi keharusan.

Syukur

Syukur yang hakiki tidak hanya diucapkan oleh lisan, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan. Dr. Musthafa Dib Al-Bugha dalam kitab Al-Wafi: Syarah Hadis Arba'in menjelaskan bahwa syukur terbagi menjadi dua: syukur wajib dan syukur sunnah.

Syukur wajib adalah dengan menunaikan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang diharamkan. Ini adalah bentuk syukur atas nikmat kesehatan dan kesempurnaan anggota tubuh. Meninggalkan maksiat adalah bentuk syukur, karena nikmat yang diberikan Allah tidak kita gunakan untuk hal yang membawa murka-Nya.

Sementara syukur sunah adalah setelah menunaikan kewajiban, seorang hamba melakukan ibadah-ibadah tambahan (sunnah) sebagai bentuk kedekatan diri kepada Allah. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah, di mana beliau rajin melaksanakan shalat malam hingga bengkak kedua kakinya. Ketika ditanya mengapa beliau berbuat demikian padahal dosanya telah diampuni, beliau menjawab, "Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?".

Dari sini, kita pahami bahwa rasa syukur yang mendalam akan mendorong seseorang untuk berbuat lebih baik dan taat. Ketaatan inilah yang pada akhirnya menghantarkan pada kebahagiaan. Dengan demikian, maka bersyukur merupakan pintu gerbang untuk meraih kebahagiaan.

Penutup

Mensyukuri nikmat bukanlah sekadar ritual ucapan "Alhamdulillah", tetapi sebuah sikap hidup yang harus dibumikan dalam setiap detak jantung dan langkah kaki. Rasa syukur mengubah cara pandang kita terhadap dunia; dari yang selalu merasa kekurangan menjadi pribadi yang kaya akan makna.

Syukur mengikat nikmat, menarik tambahan karunia, dan menjadi penyebab keridhaan Allah. Pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah milik orang yang memiliki banyak, melainkan milik orang yang mampu bersyukur atas setiap anugerah-Nya.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilham untuk senantiasa bersyukur, menunaikan kewajiban, dan mengamalkan sunnah, sehingga kita termasuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang berbahagia di dunia dan di akhirat. Aamiin.