Oleh: Rahmat Hidayat, Sekjen DMI dan Dosen FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Setiap 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati momen bersejarah—hari ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Kini, di tahun 2026, kita memasuki peringatan kemerdekaan yang ke-81.
Angka ini bukan sekadar bilangan, melainkan saksi bisu perjalanan panjang bangsa, dari perjuangan fisik merebut kemerdekaan hingga upaya mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dan kemajuan.
Di tengah segala capaian dan tantangan yang ada, sudah semestinya kita sebagai bangsa yang beriman merenungkan satu pertanyaan penting: sudahkah kita mensyukuri nikmat kemerdekaan ini dengan sebenar-benarnya?
Hakikat Syukur
Secara bahasa, kata syukur berasal dari akar kata syakara yang berarti membuka. Ini menjadikannya lawan dari kata kafara yang berarti menutup, salah satu maknanya adalah melupakan nikmat dan menyembunyikannya.
Al-Raghib al-Ashfahani, seorang pakar bahasa Al-Quran, menegaskan bahwa syukur mengandung arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan". Jadi, hakikat syukur adalah menampakkan dan mengakui nikmat, sementara kekufuran adalah menyembunyikan dan mengingkarinya.
Sedangkan secara istilah, syukur didefinisikan sebagai memberikan pujian kepada Allah dengan cara taat kepada-Nya, tunduk dan berserah diri hanya kepada Allah, serta beramar ma'ruf dan nahi munkar. Syukur juga diartikan sebagai pengakuan atas nikmat dari pemberi nikmat dengan ketundukan, yakni tidak mempergunakan nikmat di jalan maksiat kepada-Nya.
Al-Quran sangat menekankan kewajiban dan keutamaan bersyukur. Allah SWT berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat'". (Q.S. Ibrahim: 7)
Ayat ini adalah janji Allah yang gamblang: syukur mendatangkan tambahan nikmat, sementara kufur nikmat mengundang azab.
Imam al-Ghazali menegaskan bahwa perintah bersyukur digandengkan dengan perintah berzikir dalam QS. Al-Baqarah: 152, menunjukkan kedudukan syukur yang sangat penting, bahkan sejajar dengan ibadah dan zikir yang merupakan tujuan penciptaan manusia. Allah SWT juga berfirman:
لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ
"Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?". (Q.S. Yasin: 35)
Ayat ini menyiratkan bahwa salah satu bentuk syukur adalah memanfaatkan hasil bumi dan usaha untuk kebaikan, serta mengakui bahwa itu semua adalah karunia Allah.
Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
Mensyukuri nikmat kemerdekaan Indonesia yang ke-81 bukan sekadar seremonial, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ada beberapa cara mengaplikasikan syukur tersebut.
Pertama, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Ini adalah syukur yang paling fundamental. Kemerdekaan memberi kita kebebasan untuk beribadah tanpa rasa takut. Karena itu, isilah kemerdekaan ini dengan meningkatkan kualitas ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan menjadikan nilai-nilai agama sebagai landasan berbangsa dan bernegara.
Kedua, mengisi kemerdekaan dengan pembangunan. Kemerdekaan adalah pintu untuk membangun negeri. Pembangunan yang dimaksud bukan hanya fisik, tetapi juga ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya.
Syukur atas kemerdekaan diwujudkan dengan bekerja keras, berkarya, dan berinovasi untuk memajukan bangsa, serta memastikan pembangunan dilakukan secara adil sehingga semua warga merasakan kesejahteraan. Ini sejalan dengan semangat QS. Al-Qashash: 73 yang mengingatkan kita untuk mencari karunia Allah dan bersyukur.
وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُواْ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ
“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya”.
Ketiga, merawat persatuan dan kerukunan. Kemerdekaan diraih dengan persatuan. Maka, syukur atas nikmat ini adalah dengan menjaga persatuan dan kerukunan. Persatuan dan kerukunan nmerupakan modal dasar pembangunan, sebab tidak mengkin sebuah negara dan bangsa bisa membangun jika terjadi perpecahan. Oleh karena itu, maka persatuan dan kerukunan harus kita jaga bersama.
Keempat, menjaga kebebasan dari hawa nafsu. Syekh al-Utsaimin mengingatkan bahwa kemerdekaan hakiki adalah terbebas dari perbudakan hawa nafsu. Di era kemerdekaan, tantangan terbesar bukan lagi penjajah fisik, tetapi penjajahan hawa nafsu dan godaan dunia yang melalaikan.
Syukur atas kemerdekaan diwujudkan dengan mengendalikan hawa nafsu, tidak korupsi, tidak menyahgukanan jabatan dan wewenang, tidak zalim, dan tidak terjerumus dalam kemaksiatan. Ini adalah perjuangan yang tidak kalah beratnya.
Kelima, berbagi nikmat dengan sesama. Salah satu bentuk syukur adalah menceritakan dan berbagi nikmat, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Ad-Dhuha: 11. Dalam konteks kemerdekaan, kita bisa berbagi dengan membantu sesama (terutama yang masih kekurangan), meringankan beban orang lain (terutama yang kurang beruntung dan terkenan musibah), memajukan pendidikan, menyebarkan semangat positif tentang pentingnya mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang bermanfaat.
Anugrah Allah SWT
Nikmat kemerdekaan adalah anugerah Allah SWT yang tak ternilai. Indonesia telah memasuki usia ke 81, dan alhamdulillah masih berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Ini adalah nikmat yang harus kita syukuri dengan sebenar-benarnya—dengan hati yang mengakui, lisan yang memuji, dan anggota badan yang beramal saleh.
Bersyukur atas kemerdekaan bukanlah sekadar perayaan tahunan, tetapi komitmen untuk mengisi kemerdekaan dengan kerja keras, kerja cerdas serta kerja ikhlas, terus berinovasi, membantu orang lain, memberikan kebaikan, menegakkan keadilan, dan semakin dekat dan taat kepada Allah.
Semoga dengan kesadaran ini, kita termasuk dalam golongan hamba-hamba yang bersyukur, sehingga Allah menambah nikmat-Nya kepada kita dan kepada bangsa Indonesia, serta menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Dirgahayu ke-81 RI. Merdeka!